Like a Box of Chocolate |
open it. read it. loves it |
Tulisan kali ini kupersembahkan untuk mereka, orang-orang yang selalu ada di sisimu. Mungkin tidak selalu, tetapi setidaknya lebih sering dibandingkan aku.
Dari mana sebaiknya kita mulai? Oh mungkin ada baiknya aku memperkenalkan diri terlebih dahulu. Namaku Putri Pena dari Kerajaan Tulis. Meskipun kerajaanku cukup jauh dari negara kalian, aku pernah beberapa kali berkunjung ke sana.
Mungkin kalian tidak ingin terlalu mengenalku.Tidak apa.Tapi kuharap, kita bisa saling menjaga perasaan masing-masing.
Kau tahu maksudku?
Read more
Pernahkah kau menyukai seseorang? Begitu menyukainya sehingga ingin selalu bersamanya?
Atau, pernahkah kau tidak menyukai seseorang? Begitu tidak menyukainya sehingga bahkan tidak ingin melihatnya lagi?
Bagaimana jika orang yang kau beri rasa suka sekaligus tidak suka itu adalah orang yang sama?
Read more
“Kalau kau meragu, titipkanlah hatimu pada Semesta. Biarkan ia menjaganya untuk kemudian diberikan kepada orang yang tepat. Seseorang yang bisa menjaga perasaanmu, memberikan kasih sayangnya untukmu, dan selalu melindungimu. Sambil menunggu, teruslah memperbaiki dirimu. Jadilah putri yang tangguh, mengasihi sesama, dan selalu ceria. Yakinlah, putri yang terbaik akan mendapatkan pendamping yang baik pula.”
“Buka matamu. Lihatlah dunia selagi mampu. Pergilah ke Utara, Selatan, Timur, dan Barat. Selalu ada pembelajaran baru yang bisa kau peroleh.”
“Kita memilih, maka kita ada.”
“Teruslah menulis. Sebarkan pengetahuan, sebarkan kebaikan.”
Halo! Apakah kau masih suka berjalan-jalan di dekat istana dan membaca tulisanku di Diarium? Akhir-akhir ini aku memang tidak menulis, padahal banyak hal yang ingin kutuangkan melalui tulisan.
Beberapa hari lalu, Kerajaan Tulis berkabung. Ibu Suri kami, orang yang kami hormati setelah Sang Raja dan Sang Ratu, pergi meninggalkan kami untuk selamanya. Sang Raja memerintahkan seluruh penduduk menaikkan bendera hitam sebagai tanda kerajaan kami sedang berkabung. Masa itu ditetapkan selama tujuh hari.
Meski tidak terlalu mengenal dan dekat dengannya, aku sangat menghormati Ibu Suri. Bagiku, beliau adalah orang yang paling bijaksana di kerajaan ini. Jika kesehatannya memungkinkan, rasanya ia masih bisa memimpin kerajaan ini.
Aku pernah diundang untuk minum teh bersamanya. Terkadang, Ibu Suri memang memanggil para pangeran dan putri ke kediamannya. Satu per satu. Meski yang mereka lakukan terkadang sederhana, minum teh atau menonton pertunjukan seni, mereka merasa senang menghabiskan waktu bersama beliau.
Ibu Suri paling suka bercerita. Ajukan pertanyaan sederhana tentang masa mudanya, ia akan mengisahkannya panjang lebar. Terkadang matanya berubah sendu jika sampai pada bagian bagaimana ia bertemu pujaan hatinya. Ketika bercerita, tak lupa ia menyelipkan nasihat bagi kami yang masih muda.
“Apa kabar? Kau selalu terlihat ceria seperti tidak pernah memiliki masalah. Pertahankan senyummu itu, rakyat lebih menyukai putri yang riang dibandingkan pemurung,” sapanya sore itu.
“Kabar baik, Ibu Suri. Bagaimana dengan Anda?” Sepertinya saat itu kebahagiaanku memang sedang berlipat, setelah mengunjunginya aku berencana untuk menemui Ksatria Tak Berkuda.
“Aku? Seperti yang kau lihat. Apa sebabnya mereka melarangku untuk sekedar menghirup udara segar di Hutan Hijau?”
Aku tertawa kecil. Dari cerita beberapa tetua kerajaan, Ibu Suri memang dikenal suka berjalan-jalan. Ia bahkan bisa menghilang selama beberapa hari sehingga membuat tentara kerajaan sibuk mencarinya. Ia pernah tersesat di Hutan Hijau sepertiku tidak, ya?
Cerita demi cerita terus mengalir dari bibirnya. Kadang ia ganti memintaku bercerita. Ketika aku menceritakan pembelajaran menjadi ratu muda, pandangannya sedikit menerawang. Mungkin mengingat masa ketika ia mengalami hal itu.
“Jadilah putri yang tangguh. Putri yang tangguh bukan berarti ia tidak boleh bersedih atau menangis. Boleh saja, asalkan jangan terlalu larut. Dan sesudahnya, kau harus bangkit lagi. Menjadi putri yang lebih baik, layak memimpin, serta dicintai rakyat,” pesannya sebelum mengakhiri pertemuan kami.
“Dan satu lagi, jangan habiskan waktu untuk sesuatu, atau seseorang yang bahkan tidak pernah memikirkanmu. Kau mungkin mengerti maksudku.”
Astaga. Apakah ia pernah membaca tulisan-tulisanku yang menyedihkan itu?
Suatu saat, aku ingin sekali menuliskan sebuah kitab yang berisi nasihat-nasihatnya.
Aku tahu, ia sudah lebih tenang di tempat barunya kini. Namun, Ibu Suri akan tetap hidup selamanya di hati kami, seluruh penduduk Kerajaan Tulis. Selamat jalan, Ibu Suri.
“Kadang, kita tidak bisa mendapat semua keinginan dalam waktu bersamaan. Perlu ada yang dikorbankan, dilepaskan, dihilangkan, apapun itu. Percayalah, dengan usaha keras dan keyakinan kuat, pengorbanan itu tidak sia-sia dibandingkan dengan hasil yang didapat.”
Begitulah salah satu nasihat Sang Ratu yang kuingat hingga kini. Saat itu, ia mengatakannya ketika aku sedang menjalani serangkaian pelatihan menjadi calon ratu muda Kerajaan Tulis.
Kau tahu mengapa cerita kali ini hanya kuberi judul satu huruf saja? Begini kisahnya.
Sore itu, aku berjalan seorang diri menuju Hutan Hijau. Mendapat penolakan kedua kalinya untuk membuat kitab membuatku berada di titik terendah. Aku tidak mau mengadu, tapi aku pun takut, kalau kupendam sendiri, bisa-bisa aku menjadi gila.
Tiba-tiba saja, seseorang mendekatiku. Kurasa ia peri karena ada sepasang sayap halus di punggungnya. Ternyata, ia memperkenalkan diri sebagai ‘salah satu bidadari Kahyangan.’
Kami berbincang. Entah mengapa, ia cepat akrab denganku. Atau memang ia selalu begitu dengan setiap manusia yang ditemuinya? Bidadari itu menceritakan kehidupannya di Kahyangan. Tentang para dewa, apa yang mereka kerjakan, dan lainnya.Cerita yang menarik. Sampai ia mengajakku ikut ke Kahyangan.
Selanjutnya, semua berjalan begitu cepat. Hanya berpamitan singkat pada sang Raja dan Ratu, aku ikut ke Kahyangan. Meninggalkan sejenak kehidupanku di Kerajaan Tulis. Menghentikan sejenak pemikiran tentang kitab. Merelakan kehilangan waktu bersama para sahabatku.
Kehidupan di Kahyangan menyenangkan. Sebagai manusia, aku menyukainya. Segalanya serba teratur. Para Dewa yang selama ini dianggap sebagai sosok yang dingin ternyata juga bisa menyapa manusia sepertiku, yang bahkan baru pertama kali itu berada di wilayah mereka. Aku bahkan diajak ke tempat selama ini para dewa memerhatikan aktifitas manusia.
Kahyangan memang membahagiakan. Tapi ternyata, akupun tidak bisa melupakan Kerajaan Tulis. Jadi, saat ada waktu luang di Kahyangan, aku mencoba menyusun kitab lagi. Sesekali akupun meminta ijin kembali ke bumi sampai akhirnya penulisan kitabku diterima para tetua Kerajaan Tulis.
Nasihat Sang Ratu itu kembali terngiang. Dan, mungkin aku beruntung, Semesta pun sepertinya mendukungku untuk turun kembali ke bumi.
Oh, kau ingin tahu apa saja yang kulakukan di Kahyangan? Biarlah itu tetap menjadi rahasiaku. Satu hal, hidup di sana memang menyenangkan, tetapi rupanya aku lebih mencintai kehidupanku sebelumnya di Kerajaan Tulis. Kalau masih penasaran, cobalah berjalan-jalan ke Hutan Hijau. Siapa tahu di sana kau akan bertemu bidadari yang dulu menemuiku dan mengajak tinggal di tempatnya.
Jadi, aku melepaskan kesempatan hidup di Kahyangan sebagai calon Dewi. Ya, kali ini aku tidak boleh tergoda lagi. Ketika kembali ke Kerajaan Tulis, mungkin kau akan lebih banyak melihatku di dalam paviliun. Aku ingin berkonsentrasi menyelesaikan kitab sebagai persembahan terakhirku untuk Kerajaan Tulis. Persembahan untuk sang Raja dan Ratu yang telah berbuat begitu banyak kebaikan bagiku. Persembahan untuk para sahabat yang selalu setia menemaniku. Persembahan untuk semua orang baik yang sekedar tersenyum tulus padaku.
Terima kasih untuk segala kesempatan indahnya, wahai para dewa Kahyangan. Terima kasih telah memberi pengalaman berharga untukku, Putri Pena dari Kerajaan Tulis.
Ksatria Tak Berkuda telah resmi menjadi Menteri Muda bidang Pertahanan Negeri 1000 Dagang! Ya, ia dilantik beberapa hari yang lalu pada sebuah acara yang terbilang meriah. Ada puluhan ksatria lain yang juga dilantik atau mendapat kenaikan pangkat sehingga suasana Negeri 1000 Dagang hari itu penuh suka cita.
Ya, hari itu. Aku ke sana bersama salah satu sahabatku. Sayang, aku tidak melihat prosesi pelantikannya karena… begitulah. Aku kan tidak mendapat undangan resmi dan bukan datang sebagai utusan Kerajaan Tulis.
Saat aku datang, upacara pelantikan hampir selesai. Diadakan di ruang tengah pusat pemerintahan Negeri 1000 Dagang, upacara itu dihadiri nyaris separuh penduduknya. Sorak sorai dan gemuruh tepuk tangan mewarnai pelantikan.
Bersama sahabatku, kami menunggu di luar ruangan. Seseorang menyilakanku masuk, tetapi suasana di luar sepertinya tidak kalah menarik.
Aku ingin mencari tahu tentang para putri dan dayang yang konon juga hadir pada pelantikan Ksatria Tak Berkuda.
Read more
“Kalau aku berada di posisimu, sepertinya aku tak akan sanggup menghadapinya,” celetuk Putri Maroon.
“Aku pun demikian. Lebih baik aku tinggalkan dan mencari yang lebih baik,” dukung Putri Sastra.
Aku tersenyum kecil mendengarnya. Saat itu, kami sedang menghabiskan waktu bersama di paviliun Putri Maroon. Sudah lama kami tidak bertemu seperti ini, jadi ini adalah salah satu hal yang sangat aku nantikan.
Akhir-akhir ini, aku merasa Semesta sedang berkonspirasi menghukumku. Terdengar berlebihan? Tapi, begitulah yang kurasakan. Aku sudah menyusun kembali sebuah kitab, dengan lebih sungguh-sungguh dan berharap dapat diterima Sang Raja dan para tetua, tapi rupanya tetap belum sesuai keinginan mereka. Kitabku ditolak. Lalu, seseorang mengabariku bahwa Sang Ksatria ternyata sedang berada di Hutan Hijau, tetapi ia tidak menuliskan hal itu di surat terakhirnya. Kau pasti tahu apa yang kurasakan dan sesungguhnya ingin kuucapkan, tapi sudahlah.
Sepi. Rasanya, semua yang kuinginkan sedang menjauhiku. Atau, aku yang terlalu banyak meminta?
Berjumpa dengan Putri Maroon dan Putri Sastra selalu menyenangkan. Entah mengapa, di depan mereka aku tidak bisa mengeluarkan air mata saat menceritakan segala yang terpendam di hatiku selama ini. Sungguh, sebelum untuk Ksatria Tak Berkuda, aku bersyukur Semesta telah mempertemukanku dengan dua orang putri yang sangat baik hatinya seperti mereka.
Putri Maroon dan Putri Sastra selalu memiliki pandangan tersendiri terhadap sesuatu. Seringkali mereka memiliki pendapat yang berseberangan denganku, tapi kami masih bisa menghormati satu sama lain. Seperti pendapat mereka tentang ‘hubungan’ tadi. Jika mereka berpendapat tidak bisa bertahan dengan hubungan seperti yang sedang kujalani, aku justru tetap akan berusaha menjalankannya.
Tetaplah seperti ini, sahabatku. Meski kelak kita akan semakin dewasa dan disibukkan dengan urusan kerajaan. Meski kelak mungkin kita terpisah lebih jauh. Terima kasih untuk selalu berbagi. Mendengarkan mimpi-mimpiku. Mengingatkan langkahku. Tetaplah, seperti ini.
“Sang Raja ingin mengundangmu pada jamuan yang akan kami adakan siang ini di Hutan Hijau. Kuharap kau bisa memenuhinya. Bersiaplah, aku akan menjemputmu satu jam lagi,” tulis sang Ksatria. Sepertinya ia terburu-buru, tulisannya tidak serapi biasanya. Akibatnya, akupun sedikit perlu mencerna isi tulisan tersebut. Sang Raja? Mengundangku? Jamuan di Hutan Hijau?
Tidak ada waktu untuk berpikir terlalu jauh. Lebih baik aku segera mempersiapkan diri. Bagaimanapun, undangan ini sebuah kehormatan bagiku dan aku tidak ingin mengecewakan mereka.
“Kau sudah siap? Bagus, mari kita pergi,” ajak sang Ksatria ketika ia tiba di depan paviliunku. Bahkan seekor kuda cokelat berdiri dengan gagah, siap untuk mengantar kami ke tempat jamuan.
“Mengapa… aku? Maksudku, mengapa mendadak seperti ini?”
“Ceritanya panjang. Lebih baik tenangkan dirimu karena jamuan itu juga dihadiri sang Ratu dan beberapa tetua negeri kami.”
Kalau aku tidak berpegangan padanya, mungkin saat itu juga aku terjungkal dari kuda yang sedang kami naiki. Kejutan apalagi ini? Padahal pada malam sebelumnya, kami sempat berselisih paham karena satu hal. Ah, Ksatriaku ini memang sulit ditebak! Tapi, bukankah itu yang dulu kuinginkan pada Semesta?
Kami tiba di tempat jamuan. Tidak tahu harus berbicara apa, — ya, sesungguhnya aku gugup — aku memilih lebih banyak tersenyum. Untungnya, mereka menyambutku ramah. Sang Raja, Ratu, semuanya. Semesta, terima kasih…
Hari itu menjadi terasa sangat panjang. Tapi, aku sangat menikmatinya. Ini indah. Mungkin juga pertanda permulaan yang baik. Ya, semoga. Terima kasih atas jamuanmu, Sang Raja. Semoga aku cukup tangguh untuk kelak bisa diangkat menjadi… pendamping ksatriamu.
Tadi, aku bertemu dengannya. Siapa lagi? Masih perlu kusebutkan?
Dalam pertemuan itu, ia tetap gagah seperti biasa. Bahkan pembawaannya terlihat lebih dewasa dibandingkan terakhir kali kami bertemu. Ia tersenyum menyapaku ketika aku mempersilakannya masuk ke dalam paviliun. Cuaca yang cerah, Ksatria Tak Berkuda, bagaimana mungkin aku tidak bersyukur?
Rupanya, ia tidak sendirian. Ada seorang putri kecil yang ikut bersamanya. Benar-benar masih kecil dan sepertinya putri ini haus akan pengetahuan. Ketika aku mengobrol dengan sang Ksatria, beberapa kali ia memotong untuk menanyakan benda-benda yang ada di paviliunku. Ia lucu dan menggemaskan.
“Putri salah satu menteri,” cerita Sang Ksatria. Hari itu ia mendapat tugas mengajaknya bermain. Entah mengapa, putri kecil itu memang terlihat sangat akrab dengan sang Ksatria. Oh tenanglah, aku tidak akan cemburu. Bukankah pemandangan ini bagus, mengingat ia biasanya bersikap dingin tetapi kali ini dapat hangat terhadap anak kecil?
Sungguh, rasanya sudah lama sekali aku tidak bertemu langsung dengannya. Meski, syukurlah, setiap hari kami masih berkirim surat, tidak ada yang bisa mengalahkan perasaan bahagia ketika melihatnya langsung. Senyumnya, candanya, tawanya, dinginnya… semuanya. Semuanya masih sanggup membuat perutku terasa diisi ratusan kupu-kupu.
“Aku harus pulang. Ia tidak boleh kembali terlalu sore,” pamitnya sambil mengajak putri kecil itu kembali. Aku mengangguk mengiyakan. Walaupun singkat, tetap berkesan. Saat-saat bersamanya selalu berkesan. Semesta, terima kasih untuk…
“Putri! Putri! Kau ada di dalam?” seseorang mengetuk paviliunku dengan keras. Akupun tersadar. Astaga, tadi aku hanya bermimpi!
“Ya, maaf membuatmu lama menunggu,” kataku pada Putri Tutur. Aku memohon waktu sebentar untuk bersiap kemudian kami akan pergi ke Hutan Hijau.
Sambil bersiap, aku kembali teringat mimpiku tadi. Semua itu terasa begitu nyata. Bahkan ketika putri kecil itu meminta duduk di pangkuanku beberapa saat dan ikut menyimak percakapanku dengan sang Ksatria.
Astaga, astaga.
Apakah aku terlalu merindukannya?
Apakah ia tahu aku merindukannya?
Kalau iya, mengapa ia memilih datang melalui mimpi? Bukankah kabarnya ia sedang mengunjungi Hutan Hijau?
Kalau tidak… Baiklah.
Aku tidak tahu harus menulis apa lagi.
Aku tahu, hidup ini seperti roda. Berputar. Tapi sepertinya aku perlu diingatkan, kadang perputaran itu sangat cepat. Siap tidak siap, harus tetap berjalan.
Sungguh, aku ingin sekali berbincang-bincang secara langsung. Dengan… Yah, kau tahulah siapa saja. Di satu sisi aku merasa hidupku berjalan lambat. Tidak ada tugas dari sang Raja (oh ya, selain menyusun kitab jika aku masih ingin melepas gelar sebagai putri Kerajaan Tulis), tidak ada berkumpul dengan para sahabat, tidak ada janji bertemu sang Ksatria di Hutan Hijau…
Tolong. Aku merindukan itu.
Tapi tenang, aku tidak akan merengek kok. Hanya mengucapkannya saja, boleh kan?
blue 8-)!
Mesti di reblog ni!!
Make me remember the old time talking with an architect wannabe friend
The best love is when you find someone who makes your Imaan rise, who makes you more pious and who helps you here in the dunya because that person...
Day 111/365
How to love yourself